Stories · Tak Berkategori

Idealisme VS Realita

Saya (dulu) salah satu yang menjungjung tinggi idealisme, saya ingin semua hal berada pada track yang benar dan berusaha agar semuanya SEMPURNA. Sejak pertama saya menyandang “Ny. Helmi_Euy” dan gelar “Ibu” dari dara cantik bernama Mayanda Zifana Anandayu, kehidupan berubah total, tidak semua apa yang saya pikirkan, rencanakan berjalan pada jalur yang lurus tanpa kelok. Idealisme saya angkat bendera putih,  saya menyerah pada realita ! Saya menyerah bukan karena mengamini sesuatu yang tidak saya harapkan, tetapi memang kebutuhan memaksa saya untuk mengikuti alur prosesnya.

ASI VS Susu Formula (Sufor)

Sebagai ibu yang waras, saya menginginkan semua kebaikan atas anak saya sendiri. Dari mulai dalam kandungan saya berkomitmen akan memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan – 2 tahun. Namun, dilihat dari riwayat proses kehamilan dan melahirkan saya yang dapat dibilang tidak senormal orang biasanya, saya dilarang oleh dokter internist untuk memberikan ASI kepada Nanda.

Cukup memakan waktu untuk check up terkait “sisa” preeklamsi yang saya alami. Pada awalnya saya tidak ada masalah mengenai ASI, produksi ASI saya dapat tergolong banyak, dengan sangat menyesal ASI yang saya perah di buang cuma-cuma, sementara Nanda mendapat asupan nutrisi dengan meminum susu formula (sufor).

Selang beberapa waktu, rutinitas bolak-balik dokter internist selesai sudah, dengan perasaan senang bukan kepalang saya pulang dengan membawa kabar baik untuk Nanda. Masa peralihan dari sufor ke ASI memang butuh perjuangan dan mental yang kuat. Komitmen, usaha dan hasil ternyata berbanding terbalik, apa yang sudah saya upayakan tidak sejalan dengan harapan. Nanda lebih memilih dot, produksi ASI saya menurun, dan akhirnya sampai tidak keluar sama sekali ! sedih, apakah saya menyerah ? belum. Dapat saran dari teman-teman kantor untuk relaktasi, saya coba cari informasi sebanyak-banyaknya, saya coba berbagai cara untuk membuat ASI saya kembali berproduksi, hasilnya ? NOL !

Sampai dimana titik saya menyadari tidak semua yang saya harapkan dapat sejalan. Saya mulai ikhlas harus memberi Nanda susu formula, saya ikhlas setiap hari melihat rekan-rekan kerja saya pumping ASI, saya ikhlas menerima kata-kata tidak enak karena tidak memberi ASI, karena saya tau mereka tidak tau apa yang saya alami, semoga para ibu yang pro ASI lebih bijaksana lagi memandang ibu yang memberikan sufor kepada anaknya, karena setiap anak dan ibu memiliki cerita dan perjuangannya masing-masing.

 

Polemik Baby Walker

Taukan Baby walker, dari jaman ke jaman orang tua memberikan baby walker, alih-alih melatih anak untuk berjalan, tapi dari informasi yang saya terima ternyata baby walker malah dapat menghambat perkembangan anak untuk dapat berjalan. nah lho…

Saya berkomitmen akan membiarkan Nanda tumbuh secara naturally, kami berpikiran dengan memberinya latihan tanpa harus menggunakan baby walker pun pasti dia dapat berjalan dengan sendirinya.

Kenyataannya, kami perlu baby walker ! lagi-lagi karena kebutuhan. Nanda yang sudah aktif membuat kami memutuskan untuk memberi lampu hijau pada baby walker. Nanda yang di titip di mertua, kami usahakan tidak membuat mereka terlalu kesusahan. Saya tau waktu mereka terbatas dengan aktifitasnya masing-masing. Baby walker menjadi solusi dia dapat diam dan terawasi sementara ibu/bapak mertua saya mengerjakan hal yang lain.

Begitu banyak hal-hal yang kita harapkan tetapi tidak sejalan secara harmonis, disinilah kearifan kita sebagai manusia harus belajar menerima, menerapkan keikhlasan karena memang kita hanya perencana dan Tuhan sang sutradara.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s