#1minggu1cerita · Stories

Hidup itu “Udunan”

Hidup kami memang penuh udunan (patungan), kami; saya dan pak suami tidak pernah membagi tugas secara rinci, semua mengalir sesuai kemampuan selama itu masih dalam koridor masing-masing. Kami berdua sama-sama bekerja; saya sendiri mengabiskan waktu seharian di kantor, pergi pagi pulang malam, sedangkan pak suami tak tentu, kadang ada kadang tiada, maklum orang lapangan tak terikat waktu.

Demikian pun dalam hal keuangan, tak ada perbedaan akan nafkah isteri atau nafkah keluarga yang sempat booming di media sosial, semuanya sama, tugas suami ya menafkahi, titik. Dalam hal pengasilan, saya tidak meminta 100% full mengalir ke dompet saya, karena sayaΒ  mengerti kaum suami juga punya keperluan pribadi, jadi sewajarnya saja.

Banyak hal yang dikorbankan ketika saya memutuskan untuk terus bekerja setelah melahirkan, diantaranya dalam hal pengasuhan anak dan tugas rumah tangga. Di saat pak suami ada di rumah sementara saya bekerja, beliau tidak segan merawat Mayanda, dari soal memandikan, memberi makan, sampai menidurkan, semua beres. Tanpa saya minta pun dengan sendirinya beliau mencuci pakaian, bukan hanya pakaian dia saja tapi semua, pakaian saya dan Mayanda. Awalnya saya sempat protes, menurut saya ini bagian pekerjaan saya, tapi dia dengan senang hati mengambil alih tugas… (apalagi ini namanya kalau bukan cinta hahaha…).

Β Di saaat kedua belah pihak (saya dan pak suami) bertemu dalam keadaan tidak waras karena capek, kadang terjadi perdebatan emosional, dan dapat dipastikan berakhir dengan derai air mata. Namanya manusia tak akan pernah ada kata puas, dan ketika ketidakpuasan akan suatu hal diiringi emosi dan ego yang meninggi, terkadang saya lupa akan kodrat saya sebagai isteri, saya lupa bersyukur berapa nominal yang saya terima dari hasil kerja keras suami, hati saya menunut keingingan bukan kebutuhan. Ini yang selalu saya tanam dalam hati ketika ketidakwarasan terjadi “kalau bukan karena izin suami, saya tidak bisa berada pada titik dimana saya berdiri”

Semoga kalimat ini dijadikan rem untuk kita sebagai isteri pekerja; “wahai para isteri ingatlah berapapun nominal yang diterima dari hasil keringat suami itu sungguh penuh berkah, dan kalaupun kamu berada melebihi batas finansial suami mu, ingatlah semua atas izin Allah melalui izin suamimu”.

Hidup itu memang “udunan” saling mengisi satu sama lain, bukan siapa yang lebih berperan melainkan saling peduli untuk mengisi kekosongan.

 

 

 

Iklan

10 thoughts on “Hidup itu “Udunan”

  1. Aku juga pernah mengalami masa dimana Aku yg jemput rejeki dan suami yg mendukung. Tapi sekarang beliau full yg jemput rejeki, aku concern di ranah sosial. Alhamdulillah… dia udunan.. biayain kegiatan sosial Aku. πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s