#1minggu1cerita

Pria Muda Sederhana

Ini cerita tentang teman saya, seorang laki-laki muda yang unik. Awal perkenalan sewaku dia bergabung di tempat saya bekerja, dia tak jauh berbeda dari anak muda seusianya. Saya berinteraksi sebatas rekan kerja di kantor, jadi tidak tahu kepribadiannya secara mendalam. Pembawaannya yang kalem, berhasil membuat dia di bully oleh ibu-ibu sekantor (bully bully gemass hahaha…).

Lulusan Arsitektur dari perguruan tinggi negeri cap “Gajah Duduk” yang memiliki postur tubuh yang ideal, kulit hitam manis dengan otot lengan yang menonjol, berhasil membuat orang sepersekian detik mengalihkan pandangan dari layar monitor ke arah nya. Saat suara adzan berkumandang, dia tak ragu meninggalkan tempat duduk untuk menuju Masjid Salman. Calon menantu ideal juga tentunya (hahahha….).

Baru-baru ini saya intensif berkomunikasi dengan dia, berhubung sudah tidak bergabung lagi di tempat dimana saya bekerja, jadi kami (saya, pak suami & dia) selalu bertemu di tempat makan, nah ini yang membuat kami terheran, setiap ditawari makan, dia selalu menolak, cukup memesan minum dan camilan saja, ini terjadi beberapa kali, jawabannya tetap sama; “makan mah nanti di rumah aja, kasian ibu udah masak”,saya tanya lagi “kalo waktu kuliah gimana?”; dia pun menjawab “ya makannya di rumah, sehabis pulang kuliah”, kurang lebih seperti itu.

Tidak mau jauh-jauh membandingkan dia dengan orang lain, saya membandingkan dengan diri saya pribadi, saya terkadang suka makan di luar walaupun di rumah sudah terhidang masakan ibu, alih-alih dengan alasan bosan dengan makanan rumah, tidak selera apa yang di masak ibu, atau sebatas kongkow bersama teman yang menyebabkan perut kenyang sewaktu pulang. Terdengar sederhana mungkin, tapi di jaman sekarang mungkin sudah jarang anak laki-laki muda seperti itu. Suatu kebiasaan baik yang perlu di tiru, membuat masakan ibu menjadi alasan untuk segera pulang.

Terlepas dari kebiasaan makan di rumah, ada satu hal lagi yang membuat kami mengaguminya; untuk kepentingan sehari-hari dia lebih memilih menggunakan alat transportasi umum, entah itu angkot atau gojek, saya yakin bukan karena dia tidak mampu untuk membawa kendaraan tapi dia lebih memilih menikmati hidup dalam kesederhanaan.

Selamat dan terima kasih ibu, telah melahirkan dan mendidik anak sebagaimana dia dewasa sekarang ini; penuh kesederhanaan.

Iklan

12 thoughts on “Pria Muda Sederhana

  1. aduhh calon imam idaman :”)

    hehe iya bener kadang-kadang kita suka melupakan hal sesederhana itu. “masakan ibu” contohnya. Alhamdulillah, walau sudah bekerja selama ini, saya masih suka bekel heuheu ketika ada pertanyaan “kak, gak bekel?” ga bisa jawab engga.. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s