Menuju Rumah Ramah Lingkungan

Mencari ART hanya wacana yang menguap begitu saja, nyatanya dari awal pindah rumah sampai sekarang urusan domestik masih kita selesaikan bersama, yaa… walaupun sesekali sambil nyuci baju sambil bikin proposal deadline, sambil masak sambil dengerin rapat online. Dinamika kadang memberi warna tentunya.

Menurut kami rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal, melainkan tempat dimana kita bertumbuh untuk membangun peradaban sederhana, menerapkan pola hidup kerjasama, toleransi dan bebas berpendapat. Banyak rencana yang mengiringi kepindahan kami saat itu, ada beberapa yang terealisasi namun tak sedikit pula yang hilang sejalan seleksi alam; masalah ART itu salah satunya.

Urusan rumah nyatanya tidak hanya sekedar urusan domestik, manajemen lingkungan misalnya, bisa kita kelola untuk menciptakan rumah yang nyaman dan juga ramah lingkungan. Sharing sedikit perjalanan kita di rumah ini serta rencana-rencana yang (akhirnya) ter-realisasi, oh-tentu-saja saat ini masih tahap belajar dan mencoba itu ini.

Rumah ini memiliki bukaan yang lebar di setiap ruangnya, kami mengharap hal ini bisa memberikan dua keuntungan yakni meningkatkan kualitas kesehatan dan juga hemat energi. Pada siang hari dapat menciptakan pencahayaan yang maksimal sehingga konsumsi listrik tidak berlebihan. Semua ruangan di rumah ini memiliki jendela lebar, tak terkecuali area dapur, hal ini adalah jalan ninja agar kualitas udara di rumah bisa terjaga, apalagi kalau ibu masak asin atau jengkol hahaha… tinggal buka semua jendela dan semua bau lenyap seketika.

Saat membangun rumah, baiknya kita melakukan manajemen lingkungan untuk menciptakan rumah yang ramah lingkungan, itu idealnya. Terus ngaca sendiri, duh masih jauuuuuuh banget dari kata ideal, tapi upaya menju kesana tetap ada donk, walaupun masih belajar dan mencoba, yakin aja dulu kalau semua itu tidak ada yang sia-sia. Salah satu hal kecil yang kita mulai yaitu pemilahan sampah organik dan anorganik. Kita sediakan tong sampah berbeda, hal ini untuk memudahkan dalam pemilahan sampah. Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, kulit bawang kita buat jadi kompos.

Sudut rumah yang kami peruntukan sebagai lahan mengompos kemudian diberi sekat, kebetulan yang tersedia di rumah adalah batako, kalaupun tidak ingin membuat sekat bisa dengan cara menggali tanah untuk tempat menimbun sampah organik. Lapisan area kompos yang pertama atau sebagai dasar yaitu daun kering, lalu sampah organik, dan di tutup kembali dengan daun kering. Untuk memastikan proses itu berhasil atau tidak, kita bisa check lapisan dalamnya apakah suhunya hangat/panas, kalau terasa hangat/panas artinya berhasil dan kita bisa menemukan adanya komposer pengurai sampai organik yaitu Maggot si belatung pemakan sampah organik.

Selang beberapa bulan, kami check tumpukan sampah organik, terlebih di bagian bawah, sampah organik berubah warna menjadi kehitaman dan sudah berbaur dengan tanah, ini tandanya sudah bisa dipanen. Kompos ini nantinya kami gunakan untuk menyuburkan tanaman, terutama untuk asupan nutrisi tanaman kebon mini pak Suami. Sampai saat ini kita masih bertahan tidak membuang sampah ke luar area rumah, kalau sampah non organik seperti misalnya kaleng, kaca, dus kita kumpulkan di satu karung besar yang nantinya ada pengepul barang bekas yang datang ke rumah untuk mengambilnya.

Rumah mertua yang halamannya ditanami pohon buah dirasa cukup mengurangi polusi udara secara signifikan, berhubung lokasi rumahnya tepat di pinggir jalan raya. Limpahan oksigen dari beberapa pohon seperti pohon nangka, sawo, durian, jambu air, dan rambutan mampu meningkatkan kualitas oksigen di sekitar rumah. Begitupun rumah ini, kami alokasikan luas lahan untuk dijadikan ruang terbuka hijau, walaupun kami harus cukup bersabar menunggu pohon bertumbuh besar dan rindang.. good things take time (ingaaaaattt…. ). Pohon yang kami tanam bukan hanya sekedar sebagai penghasil oksigen, manfaat lainnya yaitu sebagai resapan air hujan, kalau hujan besar halamannya masih suka banjir namun dalam waktu yang tidak lama akan cepat surut kembali.

Kolam yang ada di rumah juga punya peranan penting, yaitu salah satunya sebagai tempat penampungan air hujan Kolam ini dulunya di fungsikan sebagai sumber air dalam proses pembangunan rumah, sekarang fungsinya berubah selain sebagai tempat penampungan air hujan, kolam ikan, kolam ini juga sebagai tempat hiburan si Nona, sebagai kolam renang pribadi ahahahaa…

Sanitasi sederhana untuk air kotor seperti air yang berasal dari cuci piring, mandi, cuci baju kita buatkan sumur resapan, kurang lebih lebarnya 1,5m x 1,5m. Secara tidak langsung semua limbah rumah tangga di rumah ini kita kelola secara mandiri, alhamdulillah sampai hari ini kita tidak ikut andil dalam menambah tumpukan sampah di TPS dan menambah volume air kotor di selokan pinggir rumah.

Semua yang kita lakukan masih alakadarnya karena rumah ini masih berproses, setidaknya ada beberapa yang bisa kita terapkan dalam upaya menuju rumah ramah lingkungan, seperti ruang terbuka hijau, efisiensi energi/listrik, serta pengelolaan limbah rumah tangga. Tindakan kecil yang nyata lebih berharga dibanding rencana besar yang tidak di coba. Doakan kami semoga istiqomah dan tentunya melakukan perbaikan berkelanjutan yaaaaa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s